31 Okt 2014
Selamat Datang di Website Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal Republik Indonesia
KEMENTERIAN PEMBANGUNAN DAERAH TERTINGGAL
REPUBLIK INDONESIA
Jl. Abdul Muis No.7, Jakarta Pusat, Telp/Fax : (021) 3500 334

Agroindustri Diunggulkan

Waktu
: 22/12/2008 13:55:04
Sumber
: seputar indonesia

PEMERINTAHKabupaten (Pemkab) Lebak terus berupaya mengentaskan kemiskinan dengan memberdayakan masyarakat pedesaan.


Kabupaten Lebak memiliki Ibu Kota di Kecamatan Rangkasbitung, yang jaraknya 35 km dari pusat Pemerintahan Provinsi (Pemprov) Banten, di Kota Serang.Sementara jarak Kabupaten Lebak dari Jakarta, Ibu Kota Indonesia kurang lebih 90 km.Kabupaten Lebak lahir pada 2 Desember 1828, yang ditetapkan melalui Peraturan Daerah (Perda) Kabupaten Lebak Nomor 18 Tahun 1986 tertanggal 22 Oktober 1986.

Terbentuknya Kabupaten Lebak diambil dari sejarah pembagian wilayah yang dilakukan Komisaris Jenderal Hindia Belanda, yang mengeluarkan keputusan pada 2 Desember 1828,tentang pembagian Karisidenan Banten menjadi tiga Kabupaten, yaitu Kabupaten Serang, Kabupaten Lebak,dan Kabupaten Caringin (saat ini berada di Kabupaten Pandeglang).

Kabupaten Lebak adalah daerah yang paling luas di Provinsi Banten,yaitu 304.472 hektare (Ha) dengan jumlahpenduduk sebanyak 1.202.909 jiwa. Kabupaten Lebak, yang saat ini berusia 180 tahun ini, memiliki laju pertumbuhan penduduk sebesar 1,72% setiap tahun.

Sejak masuk dalam Pemerintah Provinsi Jawa Barat,kemudian masuk ke Provinsi Banten sejak 2000 lalu,Kabupaten Lebak mendapatkan predikat sebagai daerah yang terbelakang dalam segala bidang, baik pendidikan, kesehatan,ekonomi, bahkan dalam bidang pembangunan infrastruktur.

Data Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Lebak saat ini menunjukkan jumlah penduduk Kabupaten Lebak sebanyak 1.202.909 jiwa dari 299.663 kepala keluarga (KK). Sebanyak 103.330 KK termasuk dalam kategori keluarga miskin. Kabupaten Lebak terdiri atas 28 kecamatan dengan jumlah desa sebanyak 320 dan 5 kelurahan.

Sebanyak 128 desa dinyatakan sebagai desa tertinggal.Tak hanya itu, angka partisipasi sekolah (APS) untuk anak usia 15–18 tahun atau tingkat SMA masih rendah,yaitu 72,90%. Sedangkan,untuk APS wajib belajar (Wajar) 9 tahun sudah terlihat adanya peningkatan meski angka APS belum mencapai 100%, untuk APS usia 7–12 tahun atau tingkat SD mencapai 99,10% dan untuk APS usia 13–15 tahun atau tingkat SMP 92,80%.

Penduduk berusia 15 tahun ke atas yang termasuk dalam kategori bekerja sebanyak 431.082 jiwa. Lapangan kerja yang terbesar adalah sektor pertanian sebesar 53,95% dan sektor perdagangan dan jasa sebesar 27,28%.

Di sisi lain, jumlah penduduk Kabupaten Lebak yang bekerja menurut sektor usahanya, yaitu dari sektor pertanian, perikanan,kehutanan, dan peternakan berjumlah 267.794 orang; sektor pertambangan dan energi berjumlah 11.179 orang; sektor Industri pengolahan berjumlah11.967orang; sertasektor listrik, gas, dan air berjumlah 337 orang.

Selain itu, sektor bangunan berjumlah 23.784 orang, sektor perdagangan berjumlah 38.706 orang, sektor angkutan berjumlah 13.214 orang,sektor keuangan berjumlah 294 orang, dan sektor jasa kemasyarakatan lainnya berjumlah 13.181 orang. Kabupaten Lebak saat ini memiliki Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang paling kecil dari daerah lain di Banten, kecuali Kota Serang dan Kota Tangerang Selatan yang baru terbentuk,yaitu Rp76,9 miliar pada 2008.

Sedangkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) hanya sebesar Rp869 miliar. Bahkan,Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Lebak atas dasar harga berlaku hanya sebesar Rp6.178.971.730.000,dengan laju pertumbuhan ekonomi sebesar 4,46%. Sedangkan PDRB per kapita mencapai Rp5.105.959 per jiwa.Masyarakat Kabupaten Lebak yang mayoritas sebagai petani belum mampu melepaskan dari lilitan kemiskinan.

Padahal kalau melihat potensi sumber daya alam di Kabupaten Lebak sangatlah kaya,sebab Kabupaten Lebak memiliki semua potensi, pertambangan, pertanian, perkebunan, peternakan,perikanan, bahkan potensi kawasan pariwisata. Beberapa hasil bumi yang baru digali dan dimanfaatkan masyarakat menjadi sektor agroindustri yang bisa memberi peluang kerja dan menekan jumlah warga miskin adalah pengolahan gula merah.

Setiap tahun memproduksi sebanyak 1.382.150 kilogram (kg) dengan nilai produksi Rp5.548.600.000. Lalu, emping melinjo memiliki kapasitas produksi sebanyak 153.000 kg dengan nilai produksi Rp2.754.000.000 per tahun. Sale pisang dan keripik pisang memiliki kapasitas produksi sebanyak 506.500 kg dengan nilai produksi sebesar Rp2.106.000.000 per tahun.

Kabupaten Lebak memiliki tiga produk unggulan dari hasil pertanian yang diolah menjadi agroindustri yang saat ini pemasarannya sudah mampu menembus pasar ekspor, yaitu gula semut, anyaman pandan dan emping melinjo. Namun, potensi produk unggulan yang masih berpeluang bisa berkembang ini kuantitas produksinya belum mampu memenuhi permintaan pasar.

Kepala Bappeda Kabupaten Lebak Robert Chandra mengatakan,upaya yang dilakukan untuk mengurangi masalah kemiskinan di Lebak saat ini menitikberatkan pada pembangunan berbasis pedesaan dan pendidikan.Di antaranya dengan membangun desa-desa yang ada di Kabupaten Lebak,salah satunya membangun akses jalan di setiap perdesaan melalui program Hotmix Masuk Desa.

Sebab, dengan dibukanya akses jalan, pertumbuhan ekonomi masyarakat dengan sendirinya bisa berkembang. “Kalau akses jalan bagus, masyarakat yang memiliki hasil pertanian bisa mudah membawanya ke pasar,” ujar Robert Chandra. Dengan begitu,secara berkelanjutan ekonomi masyarakat Lebak sedikit demi sedikit akan meningkat dengan sendirinya.

Selain itu,upaya yang akan dilakukan adalah memfokuskan pembangunan desa tertinggal setiap tahunnya sebanyak 10 desa, dengan cara meningkatkan empat indikator penyebab desa itu menjadi tertinggal,yaitu peningkatan ruas jalan dan drainase desa, peningkatan sarana permukiman penduduk, peningkatan sarana kesehatan, dan peningkatan sarana listrik.

Gagasan untuk peningkatan masalah kesehatan, Pemkab Lebak telah membentuk tim medis yang disebut mantri keliling dan bidan keliling. Hal itu untuk menjamin kesehatan masyarakat dengan cara jemput bola. “Jadi, pemerintah menyiapkan tenaga lapangan untuk memberikan pengobatan dan persalinan selaindipuskesmas,”katanya. (teguh mahardika)  

Input: kml



Statistik
Pengunjung Online: 99
Anggota terbaru: harylasmana
Jumlah Anggota: 6004
Anggota yang online: 0
Informasi
Oktober - 2014
Mi Sn Se Ra Ka Ju Sb
1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031
Belum ada agenda
SISTEM INFORMASI
Kurs BI
KPDT On Youtube
Publikasi
Polling
Pendapat Anda tentang kinerja Kementerian PDT?
Partisipasi | Lihat Hasil